Pahlawan untuk diri kita sendiri ^_^


Membicarakan tentang pahlawan tentu saja kita gak berhenti berkutat pada pahlawan tempo dulu, pra dan pasca kemerdekaan Indonesia. Karena pahlawan pun juga dapat kita temui pada masa sekarang.
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Para pelaku bidang kesehatan adalah pahlawan bagi nyawa semua orang. Dan para aparat hukum yang menjadi penegak hukum sebagai pilar keadilan bangsa. Yaah.. meskipun sebenarnya dari semua profesi itu aku masih merasa semuanya gak tulus tulus amat.
Zaman sekarang orang-orang pada kepengen jadi guru karena gajinya yang lumayan gede. Apalagi dengan adanya sertifikasi guru yang mampu mendua-kali-lipatkan gaji. Istilahnya kayak penggandaan uang secara halal, bukan secara sihir atau magic. Lalu para pelaku bidang kesehatan, mereka hanya akan bergerak jika sudah ada fulus. Sama halnya dengan aparat hukum, keadilan hanya berlaku bagi yang punya uang. Itulah kenyataannya. Toh, banyak kan sudah kedengaran kasus yang lalai diantara profesi itu dengan motif uang.
Terlepas dari sedikit kritikan tadi, gue cuman mau bilang kalau pahlawan itu ada dimana saja, siapa pun dia, bahkan kita sendiri pun bisa menjadi pahlawan. Pahlawan untuk diri kita sendiri, untuk keluarga, dan untuk teman-teman kita. Menjadi pahlawan untuk diri sendiri cukup dengan meraih semua cita-cita, keinginan yang menjadi ambisius kita selama ini. Mendapatkan apa yang begitu diinginkan akan menjadi pencapaian membanggakan bagi diri sendiri. Coba.. pahlawan tempo dulu gue yakin juga ngerasain bangga yang sama, yakin!!
Pahlawan untuk keluarga dapat kita lakuin dengan membahagiakan mereka, menjadi apa yang mereka mau tanpa kehilangan jati diri kita sendiri. Lalu, menjadi pahlawan untuk teman-teman, em.. menjadi teman dan sahabat yang baik bagi mereka. Pendengar yang baik, pemberi solusi, dan penunjuk arah yang tepat. Ah.. bingung juga gue gimana jadi pahlawan untuk teman sendiri. Cari tahu sendiri deh!!
Menjadi pahlawan itu gak susah kok. . Gak perlu tuh pakai bambu runcing atau pakai kostum Power Ranger. Cukup jadi diri sendiri. Do the best for everything. Gampang kan??

Kesempatan kedua untuk cinta (When I see you again)


Aku menatapnya tanpa berkedip. Seorang pria yang sembilan tahun lalu aku kenal sebagai kawan SMP, kini berdiri di hadapanku. Ia telah berubah menjadi seorang pria yang semakin menawan. Tinggi tegap dengan senyumnya yang masih mencuri hatiku.
Aku bertemu kembali dengan Putu, nama pria itu, tiga bulan yang lalu melalui sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Kami bertemu saat menonton film di bioskop dan seolah telah direncanakan, kami duduk pada bangku yang bersebelahan.
“Apa kabar?”
Itulah yang pertama kali keluar dari mulut kami secara bersamaan. Bodohnya, kami baru menyadari pertemuan itu setelah pemutaran film berdurasi 90 menit itu selesai. Kami pun langsung saling melempar tawa renyah menyadari kebodohan itu.
Oh ya.. mungkin dari apa yang aku katakan pada permulaan tadi, sudah tergambar bagaimana perasaanku pada Putu. Untuk mempertegas akan aku katakan lagi bahwa Putu adalah obsesi masa laluku, bahkan mungkin hingga sekarang. Karena desiran di dalam hati ternyata beraksi lagi saat Putu menunjukkan lagi senyumnya padaku setelah tujuh tahun aku tidak pernah lagi bertemu dengannya selepas dari bangku SMP.
Putu bukanlah pria semanis itu yang telah mampu membuatku jatuh hati dengan sikap sempurnanya. Ia sebaliknya. Ia adalah pria cuek yang bahkan cenderung tempramental. Aku pun tidak mengerti apa yang telah membuatku terobsesi padanya. Bukan hanya aku, karena Putu adalah seseorang yang begitu digilai semasa SMP dulu.
Saking banyaknya yang mengincarnya, aku nekat menyatakan perasaanku. Dan tentu saja jawabannya adalah sebuah penolakan. Selain karena aku bukan siswi populer, aku adalah sebaliknya, siswi cupu dengan pergaulan sosial yang minim. Aku mempermalukan diri sendiri dengan pernyataan cinta yang aku lakukan di depan kelas.
“Sendirian saja, Al?”
Ah.. aku baru tersadar. Meskipun dulu aku adalah siswi cupu, Putu dapat mengenaliku.
“Alin?”
Uh-oh.. ternyata dia pun masih mengingat namaku. Tapi itu mungkin lebih karena pernyataan cinta bodoh itu yang membuatnya masih mengingatku. Mengesalkan setiap kali teringat hal memalukan itu.
“Alin..” Putu mengibaskan tangannya di depan wajahku. “Lu baik-baik aja?”
Aku mengangguk cepat. “Yaa.. aku baik-baik aja, ga ada masalah.” Aku tidak mampu mengimbanginya yang menggunakan istilah ‘lu-gua’.
“Setelah ini lu rencana kemana lagi?”
Aku menelengkan kepalaku, seolah bertanya, ‘memangnya kenapa?’.
“Gua mau ajak lu makan di food court.”
***
Aku dan Putu telah di food court. Pesanan kami pun telah tersaji di atas meja. Cheese cake dan lemonade untukku, sedangkan cheese croissant dan espresso untuk Putu.
“Gua lihat lu tadi ngelamun. Ngelamunin apa?” tanya Putu membuka pembicaraan.”Cuman lagi mikirin film tadi,” dustaku.
Putu tertawa. “Lu pasti lagi ingat waktu nyatain cinta ke gua dulu.”
“Hah?” Bagaimana bisa tebakannya dapat tepat sasaran seperti itu? Aku pun kemudian salah tingkah.
“Lu kebaca banget, Al.”
“Oh ya?” sahutku.
“Atau.. apa justru lu sebenarnya selama ini diam-diam merindukan gua dan sekarang merancang pertemuan ini, seolah ini adalah pertemuan yang ga disengaja?” Aku telah menggunakan istilah ‘lu-gua’, bahkan bicara panjang lebar dengan tebakan konyol itu.
Putu kembali tertawa. “Iya, Al. Gua memang mencari lu. Gua pengen memperbaiki pendekatan yang dulu sama sekali ga lu lakukan sebelum nyatain cinta lu ke gua.”
“Maksud lu?” Apa Putu ingin melakukan pendekatan denganku?
Putu tersenyum.
***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You Again” di blog: http://itshoesand.wordpress.com

Berani Bermimpi :: Aku ingin jadi penulis


Seperti anak-anak kebanyakan, saat masih kecil dulu, aku pun adalah seorang anak dengan segudang cita-cita. Dengan malu aku mengakui cita-citaku saat kecil dulu, diantaranya adalah ingin menjadi model dan pramugari. Ha.. ha.. sangat memalukan jika melihat bagaimana aku dan penampakanku sebenarnya. Namun memang itulah cita-cita yang sempat meracuni otakku saat kecil dulu. Akhirnya aku menemukan cita-cita sebenarnya dan masih dalam usaha pencapaian hingga sekarang.

Aku tidak ingat pasti. Kalau tidak salah saat aku menduduki bangku kelas delapan SMP, cita-citaku menemukan haluannya dan tidak berubah hingga sekarang. Berawal ketika aku membaca rangkaian cerita dari buku tulis temanku yang begitu menarik, memancingku untuk melakukan hal yang sama. Menulis untaian cerita dalam sebuah buku. Untaian cerita yang kemudian aku publikasikan pada teman-teman sekelas untuk membacanya. Dan mereka memuji tulisanku dalam buku tersebut.

Berangkat dari pujian tersebut, aku menuangkan lagi beberapa, menjadi begitu banyak tulisan dalam kertas –yang kebanyakan mendapatkan pujian dari teman-temanku. Dengan begini, sudah jelas, kan, apa cita-cita yang ingin aku gapai? Tentu saja menjadi seorang penulis. Itulah mimpi terbesarku.

Saat ini aku masih dalam proses untuk meraih cita-cita itu. Berulang kali aku mengirimkan naskahku ke penerbit. Saat ini pun sudah terdapat beberapa naskah baru dan revisi yang persiapan untuk aku kirimkan lagi pada penerbit. Penolakan yang aku dapatkan berulang kali tidak lantas membuatku menyerah begitu saja. Aku masih membulatkan tekadku untuk terus berusaha.

Membuktikan keseriusanku untuk menjadi seorang penulis, beberapa kali, dalam kompetesi menulis cerita pendek dan artikel, tulisanku termasuk dalam nominasi. Meskipun belum mencapai kata berhasil, setidaknya itu sudah menjadi pencapaian yang membuatku bangga pada diriku sendiri. Hal itu tentu saja menjadi bukti bahwa aku memiliki potensi menulis, meskipun mungkin tulisanku belum cukup sempurna untuk mengantarkanku ke gerbang menuju menjadi penulis. Namun aku akan terus berusaha.
Bahkan, rasanya aku bukan saja ingin menjadi penulis, aku pun ingin merasakan nikmatnya bekerja di perusahaan penerbitan. Tekadku masih bulat untuk menjadi penulis. Aku yakin akan menjadi penulis kenamaan dan menelurkan buku best seller suatu saat nanti.

Aku yakin!!

Mandiangin Sarang Hantu


Aku beberapa kali pernah refreshing dengan bertandang ke Mandiangin. Salah satu tempat yang mungkin dapat dikatakan sebagai objek wisata di salah satu sudut kota di provinsi Kalimantan Selatan. Dan sebagai seseorang yang lahir dan besar di kota ini, aku cukup tahu sedikit selentingan tentang tempat tersebut, tentu saja tentang cerita horor yang mengiringi tempat tersebut.

Satu ketika, pada akhir pekan, aku beserta rombongan ekstrakurikuler sekolah mengadakan camping akbar di tempat tersebut. Aku yang ketika itu telah duduk di bangku kelas XI SMA menjabat sebagai salah satu senior pada ekstrakurikuler yang aku ikuti dan itu menjadi sebuah keuntungan bagiku. Pasalnya, tujuan acara camping tersebut adalah untuk menggemblengisasi (sedikit meniru bahasa Vicky) para adik junior kelas X yang ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Aku dan teman-temanku yang akan memplonco para adik-adik junior itu.

Honestly, aku cukup penakut untuk urusan hal yang berbau mistis, meskipun seringkali aku mengatakan bahwa aku tidak percaya adanya hantu –karena aku percaya mereka hanyalah perwujudan dari mahkluk gaib yang ingin mengganggu manusia. Apalagi, sebelumnya aku juga pernah melakukan perjalanan camping seperti ini ketika kelas X dulu. Bahkan seorang senior pernah mengaku pernah nyasar dan dikejar-kejar gajah. Could you imagine that? Parahnya lagi, aku juga pernah mendengar suara-suara aneh pada malam harinya saat itu. Bukan suara aneh sebenarnya, melainkan teriakan yang terdengar sangat menyeramkan jika harus membayangkannya.

“Lapor!! Di pos lima ditemukan dua mayat tanpa kepala..”

Begitu yang aku dengar. Aku bahkan kehilangan keberanianku untuk melanjutkan menulis kalimat seterusnya. Aku merinding ketika menulis ini karena aku sudah mulai membayangkannya. Hiiyy..!!

Sebenarnya sih, kalau di tempat seperti ini hanya perlu berhati-hati agar tidak salah bicara saja.

Okay, kita kembali pada cerita tentang memplonco para junior. Tapi tenang saja, aku tidak akan menceritakan kesadisan kami untuk tulisan kali ini, karena kami memang tidak sesadis itu. Aku hanya akan menceritakan sedikit yang aku rasa menarik untuk diceritakan.

Saat jurit malam aku pun kembali dapat bernapas dengan lega. Setiap pos dijaga oleh dua orang senior dan aku ditemani Amat untuk menjaga pos tiga. Selama penjagaan pos aku sedikit pun tidak membiarkan Amat menjauh dariku. Bukan apa-apa, aku takut. Hanya itu.

“Jangan!!” Aku melarang Amat yang hanya ingin beranjak beberapa langkah dariku.

“Gue cuman kesana sebentar. Lagian ini ada Mira.” Amat mencoba membujuk.

“Iya. Tapi jangan lama-lama.” Aku mengingatkan, sedikit dengan nada mengancam.

Amat pun berlalu, sementara aku mulai menginterogasi Mira dengan pertanyaan seputar ekstrakurikuler yang aku geluti. Setelah interogasi singkat tersebut, Mira melakukan sedikit pengakuan terhadapku.

“Gue harus lari dari pos dua ke sini. Gelap banget!!”

Jelas saja. Senter dan alat penerangan lain pasti sudah disita di pos pertama tadi. Aku pun pernah mengalami hal serupa ketika tahun lalu berada pada posisi mereka. Bahkan saat itu aku harus berhati-hati memperhatikan langkahku karena harus melewati area pekuburan di belakang sekolah untuk jurit malam.

Begitulah malam itu terjadi. Selama penjagaan pos, mataku tidak sedikit pun berpaling dari cahaya. Aku takut gelap dan imajinasi yang membayangiku saat dalam kegelapan. Aku hanya menatap pada lilin dan wajah-wajah di sekitarku, tidak selain itu.

 

Dan malam itu, ternyata bukan hanya aku yang menjadi pengecut. Ada satu orang yang lain. Seseorang dengan tubuh besar, lebih besar dan tinggi dari aku. Mas Ari. Cowok itu. Sama sekali diluar dugaan.

Ia berjaga di pos lima bersama Nunu. Dari cerita Nunu aku memperoleh kebenaran. Mas Ari beberapa mengeluh pada Nunu yang sering turun ke sungai di belakang jalan pos yang mereka jaga. Padahal Nunu hanya mengambil batu sebentar. Ternyata bocah petualang –yang lebih suka aku panggil sebagai mas Ari- itu juga adalah pengecut.

Hi.. hi.. hi..

“””

Malam itu, kegiatan jurit malam terpaksa dihentikan karena hujan yang turun. Kami pun segera kembali ke perkemahan. Sekembalinya ke perkemahan, aku langsung masuk ke tenda besar untuk para senior tidur. Setelah membersihkan diri, aku langsung mengambil posisi tidur. Lelah.

“Hwwaaa.. hwwaaa..!!”

Belum sempat aku terlelap, aku mendengar teriakan itu. Namun aku menolak untuk bangkit dan menunjukkan bahwa sebenarnya aku belum tertidur. Aku rasa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Dia kerasukan,” terdengar seseorang berujar.

Ya. Sepertinya aku pun tahu siapa yang sebenarnya itu.

Saat melakukan jurit malam tadi, beberapa orang berjaga di perkemahan. Aku sempat mendengar bahwa Aya, seseorang yang saat ini sedang ditangani, sedari tadi hanya diam dan tatapannya hanya tertuju pada satu titik. Ada yang mengatakan bahwa Aya melihat api terbang, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa Aya melihat kepala melayang. Entah yang mana yang benar?

“Untung saja itu bukan aku yang melihat.”

“””

Tidak ada yang dapat memastikan hingga saat ini benar tidaknya hal-hal mistis di tempat tersebut. Namun aku pernah melihat foto penampakan di tempat itu. Seorang wanita dengan rambut panjang menjuntai dan gaun putih. Mungkin kuntilanak. Entahlah.

Di samping itu, dibalik kisah misteri gunung Mandiangin, tempat tersebut sebenarnya menyimpan keindahan yang luar biasanya untuk menyegarkan otak yang lelah. Sungainya yang mengalir masih sangat jernih dan menyegarkan. Selalu saja mampu membuat rinduku menguak untuk merendamkan kaki di aliran sungai tersebut.

Menurutku, Mandiangin sangat tepat untuk mereka yang ingin refreshing sekaligus melakukan uji nyali.

“””

Kuyang Penghisap Darah


Aku pernah merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku sering mendapati bercak biru memar di kakiku saat bangun tidur dan aku tidak ingat pasti bagaimana hingga akhirnya aku menemukan bercak biru memar tersebut. Bahkan, seingatku aku tidak pernah menjedotkannya ke tembok atau apapun. Memar biru tidak sakit sama sekali.

Aku kemudian mencoba mengingat-ingat apa yang salah dengan diriku. Aku pun mendadak teringat pada legenda kuyang yang doyan mengisap darah kotor orang haid atau darah wanita bekas melahirkan –bahkan darah bayi yang baru lahir, namun tidak sampai menyebabkan korbannya kehabisan darah dan meninggal. Dan pada saat itu aku sedang kedatangan tamu bulanan.

“Hiiyy..” Aku bergidik ngeri. Seluruh bulu kudukku langsung berdiri meremang.

Kuyang mungkin adalah saudara kembar Leak dari Bali dan Palasik dari Sumatera, mereka sama-sama perwujudan dari wanita. Kuyang pun sebenarnya bukan hantu, melainkan sosok dari pesugihan. Namun tetap saja, apapun yang berhubungan dengan mistis selalu menyeramkan bagiku.

Aku ingin bercerita sedikit tentang Kuyang dari Banjarmasin ini. Ia adalah mahkluk dua alam, seperti buaya yang ada di rawa dan di darat. Kuyang, ketika siang menjadi manusia dan malamnya menjadi sosok menakutkan. Jadi ingat mas Ari, teman SMA aku dulu. Dia pernah bilang –tepatnya sebuah pengakuan- kalau siang ia adalah Ari, sedangkan malamnya ia adalah Ira. Beda tipis sama Kuyang, kan?

Kuyang ini sama kayak tuyul yang banyak dicari-cari manusia –yang malas berusaha- untuk menghasilkan uang dengan jumlah melimpah dalam waktu sekejap. Kalau pernah nonton film horor Suzanna yang terbang hanya dengan kepala dan organ tubuh dalam, maka seperti itulah wujud mengerikan Kuyang sebenarnya.

Konon, tujuan Kuyang sebenarnya mengisap darah kotor manusia adalah agar menjadi awet muda, panjang umur, dan disayang suami. Padahal, kalau menurutku, kalau ingin awet muda bisa saja dengan melakukan operasi plastik menghilangkan kerutan di Seoul. Kalau ingin panjang umur, berteman saja dengan kura-kura yang umurnya selalu lebih dari 100 tahun. Dan kalau ingin disayang suami, cukup masak enak setiap hari dengan dandanan ala Farah Queen.

Entah pikiran bodoh dari mana, Kuyang sebenarnya punya pelajaran yang bisa kita tiru. Kuyang mengajarkan untuk berusaha giat demi mencapai tujuan yang diinginkan, bahkan jika itu harus bertaruh hidup. Akan tetapi, aku tidak sedang menyuruh kalian menjadi Kuyang, ya!!

“””

“Idiih.. ini Kuyang lagi, ya?”

Lagi-lagi pagi ini aku mendapatkan bercak biru di kakiku. Kuyang mana lagi yang mencuri darah kotorku? Kuyang yang sama atau kali ini yang lain?

Aku kembali teringat dengan legenda Kuyang. Sosok yang satu ini bahkan pernah dibuat serialnya beberapa tahun silam di teve lokal Banjarmasin. Aku tidak ingat pasti bagaimana jalan ceritanya, tapi baru saja aku menemukan referensi baru. Cerita tentang seorang bidan yang mewarisi ilmu hitam Kuyang, ilmu hitam yang ia warisi dari ibunya. Untungnya ia bisa lepas dari ilmu hitam itu dengan kemauannya yang kuat.

“Huuh.. kenapa harus ada mahkluk pesugihan yang merepotkan orang lain kayak begini, sih?” Aku menggerutu.

“””

Aku pernah mendengar cerita lain tentang Kuyang. Rasanya, bahkan inilah yang terjadi sebenarnya.

Setiap kali beraksi, Kuyang selalu meninggalkan badannya yang ia sembunyikan di belakang pintu rumahnya. Menurut cerita, jika kita meletakkan beling di dalam tubuh yang ditinggalkan itu, maka Kuyang tersebut tidak akan bisa kembali lagi, bahkan ada yang mengatakan bahwa Kuyang tersebut akan merasakan kesakitan. Dan cerita yang pernah aku dengar semasa sekolah dulu, terdapat Kuyang yang berkeliaran di suatu kampung, tentu saja itu sangat meresahkan. Akhirnya, warga kampung, bahkan suami si Kuyang pun ikut bekerja sama untuk memusnahkan Kuyang tersebut. Saat tubuh dan kepala Kuyang terlepas, suami si Kuyang memasukkan pecahan beling ke dalam tubuh si Kuyang. Benar atau tidaknya cerita ini, setidaknya seperti itulah yang pernah aku dengar.

Sebenarnya ada cara untuk menjatuhkan Kuyang. Ketika melihat Kuyang terbang di atas kita, segera ambil centong nasi dan arahkan pada Kuyang tersebut. Maka, Kuyang tersebut akan jatuh di hadapan kita. Aku pun terpikir untuk tidur sambil memegangi centong nasi agar aku tidak lagi menemukan bercak biru memar di kakiku, meskipun aku belum bisa memastikan bahwa Kuyang sebagai penyebabnya.

“Tapi.. apa aku berani lihat kepala sama organ tubuh saat bangun tidur dibandingkan bercak seperti ini? Sepertinya..”

“Ah.. daripada seperti itu, lebih baik mulai besok aku tidur pakai kelambu saja,” pikirku lagi.

Bukan untuk menghindari gigitan nyamuk, melainkan gigitan Kuyang. Dari seorang teman yang cukup tahu tentang mitos seperti ini, ia mengatakan bahwa kelambu memiliki fungsi lain selain untuk mengusir nyamuk, yaitu menghindari makhluk halus.

“””

Digulung Hantu Banyu


Hana duduk di tepi sungai. Ia memandang kosong ke arah aliran sungai berwarna cokelat yang tenang itu. Sesekali dilihatnya riakan sungai dari aliran yang baru saja dilewati oleh perahu kecil yang disebut orang-orang sebagai klotok.

Hana telah kehilangan semangat hidupnya. Pria yang selama ini dicintai dan menjalin kasih dengannya selama enam tahun, memutuskan begitu saja hubungan dengannya secara sepihak. Tidak ada alasan kuat yang diutarakan pria itu padanya. Namun Hana harus mau menerima keputusan itu karena pria tersebut untuk menjalin kembali hubungan dengannya. Sama sekali tidak tersedia celah untuk Hana kembali mengisi hati pria yang dicintainya itu.

Ingin rasanya Hana mengakhiri hidupnya di sungai tersebut. Hatinya seolah telah kehilangan alasan kuat untuk ia menjalani terus kehidupannya ke depan. Hana benar-benar telah berada pada puncak kesakitan hatinya yang tampaknya tidak seorang pun lagi dapat membantunya. Ia telah hancur.

“Apa lagi gunanya hidup ini. Lebih baik aku mati.”

Hana bangkit dari duduknya. Ia berdiri dan menatap aliran sungai di depannya dengan mantap. Namun Hana sempat meragu, ia takut. Langkahnya sempat mundur. Ia teringat dengan rumor yang akhir-akhir ini terdengar tentang sungai yang ada di depannya ini. Bahwa sungai ini memiliki penunggu, yaitu hantu banyu. Hantu yang diyakini dengan wujudnya seperti tikar yang sesekali sering menampakkan wujudnya ke permukaan. Hantu yang terdapat dalam mitos masyarakat Banjar ini sering menggulung manusia yang berani berenang di wilayahnya hingga tewas.

Hana sendiri tidak pernah meyakini rumor tersebut karena ia belum pernah bertemu secara langsung. Ia pun terus menyangkal dengan keberadaan makhluk gaib itu meskipun akhir-akhir ini banyak ditemukan kasus tentang orang yang meninggal di sungai yang ada di depannya saat ini. Namun, kali ini, ketika Hana telah berdiri di depan sungai itu dan berniat bunuh diri, mendadak ketakutan dengan rumor tersebut.

“Kamu berniat bunuh diri, kenapa kamu sendiri yang malah takut mati ketemu hantu banyu itu?” Setan di kepala Hana mulai bersuara. Mungkin gemas karena Hana yang terus mundur dan tidak meneruskan langkahnya untuk bunuh diri.

“Aku takut..” Hana menjawab.

“Apa yang kamu takutkan? Ketika kamu mati, maka semua beban hidupmu juga akan menghilang. Bukannya ini yang kamu inginkan?” Setan terus mempengaruhi pikiran Hana yang masih labil tersebut.

“Aah.. iya. Itu yang aku inginkan.” Hana mulai terpengaruh. Ia pun kemudian dengan berani mulai mengambil langkah maju menuju bibir sungai tersebut.

“Selamat tinggal dunia!!” Hana meneriakkan kalimat terakhirnya dan melompat, terjun ke dalam sungai yang keruh tersebut.

Menceburkan diri di sungai tidak begitu saja membuat nyawa seseorang menghilang. Hana yang bukan seseorang yang dapat berenang beberapa kali berusaha untuk meraih permukaan. Namun, seolah ada yang menahannya, kakinya terasa tertarik dan itu menyebabkannya terus terjebak di dalam air. Hana pun memaksa membuka matanya dan ia melihat gulungan tikar di ujung kakinya. Hana panik. Ia semakin berusaha keras untuk meraih permukaan. Seolah melupakan niatnya untuk bunuh diri, Hana berusaha keras mencapai permukaan.

“To.. long.. tolong!!” Hana berteriak sebisa mungkin ketika ia berhasil beberapa kali muncul ke permukaan.

Sayangnya, gulungan tikar yang Hana yakini sebagai sosok dari hantu banyu yang orang bicarakan selama ini, mulai meraih dirinya. Kakinya tidak bisa digerakkan lagi karena gulungan tikar itu yang begitu kuat. Hana hampir kehilangan harapannya ketika ia gulungan tikar itu mulai membungkus tubuhnya. Namun tanpa diduga, sebuah tangan terasa menariknya dari permukaan.

“Jangan panik. Aku akan berusaha menyelamatkan kamu.”

“””

Ketika Hana terbangun, ia melihat di samping kanan kirinya sudah ada ayah dan ibunya. Mereka menatap Hana dengan khawatir. Ibu langsung menyodorkan teh hangat pada Hana. Sedangkan di dalam hati Hana bersyukur bahwa usahanya bunuh diri gagal, ia memiliki kesempatan kedua untuk hidupnya.

Akan tetapi, hantu banyu sepertinya tidak melepaskan Hana begitu saja. Karena Hana kemudian melihat sosok tikar di ujung ranjangnya. Tikar tersebut seolah sedang tersenyum sinis padanya. Tanpa bisa ditahan, Hana pun menjerit ketakutan saat itu juga. Apalagi setelah tikar itu mulai menghampirinya dan menggulung tubuhnya. Hana tidak bisa bergerak sama sekali, ia bahkan mulai kesulitan bernapas.

Sementara ayah dan ibunya yang tidak melihat sosok hantu banyu itu menjadi panik dengan gelagat yang ditunjukkan puteri mereka satu-satunya itu. Ibu mencoba menenangkan Hana yang terus berteriak minta tolong, sedangkan ayah dengan cepat memanggil dokter yang untungnya masih menunggu di ruang tamu rumah mereka.

“Tolong selamatkan anak saya, dok.”

“””

Tiga puluh menit kemudian, Hana dinyatakan telah meninggal. Menurut diagnosa dokter yang menanganinya saat itu, Hana meninggal karena sesak napas.

Ayah dan ibu Hana hanya dapat menangisi puteri mereka yang sekarang telah disemayamkan di ruang tengah rumah untuk didoakan para tetangga. Sementara setan yang berdiri di halaman rumah Hana, tertawa dengan puas. Ia telah berhasil mempengaruhi seseorang untuk bunuh diri dan dihantui oleh sosok jin yang telah bekerja sama dengannya.

“””